Rabu, 17 April 2013

MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH


Konsep manajemen dan manajerial pun sebenarnya agak berbeda. Manajerial merupakan salah satu bagian dari manajemen. Meskipun demikian, keduanya saling melengkapi. Beberapa perbedaan antara manajemen dan manajerial mcnurut John P. Kotter (dalam Goetsch dan Davis, 1994: 209) antara lain adalah sebagai berikut.
  1. Manajemen berhubungan dengan usaha menanggulangi kompleksitas, sedangkan manajerial menanggulangi perubahan.
  2. Manajemen berkaitan dengan perencanaan dan penganggaran untuk mengatasi kompleksitas, sedangkan manajerial mengenai penentuan arah perubahan melalui pembentukan visi.
  3. Manajemen mengembangkan kemampuan untuk melaksanakan rencana melalui pengorganisasian dan penyusunan staf, sedangkan manajerial mengarahkan orang untuk bekerja berdasarkan visi.
  4. Manajemen menjamin pencapaian rencana melalui pengendalian dan pemecahan masalah, sedangkan manajerial memotivasi dan mengilhami orang agar berusaha melaksanakan rencana.
Di atas sudah dijelaskan mengenai perbedaan antara manajemen dan manajerial. Tentunya antara manajer selaku orang yang melaksanakan aktivitas manajemen dan pemimpin yang melaksanakan manajerial juga memiliki beberapa perbedaan. Dalam konteks TQM, manajer yang sukses adalah manajer yang dapat menggabungkan karakteristik manajer dan pemimpin secara tepat. Berikut ini adalah perbandingan antara pemimpin dan manajer : 1) Manajer mengelola; pemimpin melakukan inovasi; 2) Managers are copies; leaders are originals; 3) Manajer memelihara; pemimpin mengembangkan; 4) Manajer berfokus pada sistem dan struktur; pemimpin berfokus pada manusia; 5) Manajer mangandalkan pengendalian; pemimpin mengilhami; 6) Manajer menggunakan pandangan jangka pendek; pemimpin menggunakan pandanganjangka panjang; 7) Manajer menekankan aspek bagaimana dan kapan; pemimpin aspek apa dan mengapa; 8) Manajer manerima status quo; pemimpin menantangnya; 9) Manajer melakukan sesuatu dengan benar; pemimpin melakukan sesuatu secara tepat. Terdapat sejumlah perbedaan tugas pemimpin dibandingkan dengan manajer dalam manajemen kualitas. Perbaikan terus-menerus pada produk, pelayanan, dan proses dapat dipercepat bila setiap tantangan menjadi keadaan tetap setiap hari. Pemimpin dapat merumuskan atau menyusun rencana dalam menghadapi tantangan dengan membentuk jawaban pada enam pertanyaan yang fundamental.
Departemen Pendidikan Nasional menjabarkan secara rinci tugas dan fungsi kepala sekolah seperti yang tertuang dalam Pedoman Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (Depdiknas Prop. Jabar, 1999), yang biasa disingkat dengan EMASLIM (Educator, Manager, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator dan motivator). Sebagai Pendidik (Educator), kepala sekolah harus mampu membimbing dan mengembangkan kemampuan, baik bagi dirinya sendiri, maupun bagi guru, karyawan, dan siswanya, sehingga dicapai suasana kegiatan belajar mengajar yang dapat menghasilkan mutu pendidikanyang memuaskan. Sejalan dengan hal ini, Adler (dalam Permadi, 1999 : 24) menegaskan bahwa : “The quality of teaching and learning that goes In a school is largely determind by the quality of principals leadership“. (Mutu belajar mengajar yang terjadi di sekolah adalah ditentukan oleh sebagian besar mutu manajerial kepala sekolah). Sebagai Manajer, kepala sekolah harus mampu menyusun program dan menggerakan stafnya, serta dapat mengoptimalkan sumber daya manusia yang ada di lingkungan sekolahnya. Wardiman (1998 : 33) mengemukakan bahwa :
Manajer sekolah adalah pemimpin yang berhubungan langsung dengan sekolah. Ia adalah panglima pengawal pendidikan yang melaksanakan fungsi kontrol berbagai pola kegiatan pengajaran dan pendidikan di dalamnya. Suksesnya sebuah sekolah tergantung pada sejauh mana pelaksanaan misi yang dibebankan di atas pundaknya, kepribadian dan kemampuannya dalam bergaul dengan unsur-unsur masyarakat.
1. Perencanaan
Dalam menyusun rencana sekolah yang baik, ada tahapan yang harus dikerjakan kepala sekolah, yaitu : 1) Mengkaji kebijakan yang relevan; 2) Menganalisa kondisi sekolah; 3) Merumuskan tujuan yang hendak dicapai; 4) Keterlibatan Komite Sekolah dan guru dalam merumuskan tujuan sekolah; 5) Mengumpulkan data dan informasi yang terkait; 6) Menganalisis data dan informasi yang terkait; 7) Merumuskan alternative dan memilih alternative program yang sesuai dengan kondisi sekolah; 8) Menentukan skala prioritas dalam rencana sekolah; 9) Menindaklanjuti penetapan langkah-langkah kegiatan pelaksanaan; 10) Membuat jadwal sosialisasi kepada warga sekolah pada tahun pelajaran; dan 11) Melaksanakan evaluasi program yang telah dilaksanakan.
2. Pengorganisasian Sekolah
Untuk menjalankan program sekolah agar kegiatan itu berjalan sesuai dengan yang diharapkan, maka terlebih dahulu hendaknya mengorganisasikan orang yang akan melaksanakan supaya dapat bekerja dengan efektif dan efisien serta tanggung jawab terhadap apa yang akan dikerjakannya. Gorton (dalam Sagala, 2000: 4) mengemukakan bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi yang terdapat sejumlah orang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah, yang dikenal sebagai tujuan instruksional. Sekaitan dengan pendapat tersebut, memberikan gambaran bahwa sekolah sebagai satuan pendidikan terdepan yang berusaha mentransformasikan ilmu, pengetahuan, ide, gagasan norma dan hokum, dan nilai-nilai kepada siswa., hal ini memerlukan pengelolaan yang professional. Untuk dapat mengelola sekolah secara professional sesuai dengan harapan pelanggan diperlukan suatu tim (organisasi) yang kompak dari semua unsur yang terkait dalam meningkatkan mutu layanan peningkatan pendidikan, karena kualitas organisasi sekolah akan turut mempengaruhi output dari lembaga tersebut.
3. Menggerakkan Warga Sekolah
Tugas kepala sekolah selanjutnya adalah menggerkan orang-orang dalam organisasi sekolah untuk bekerja secara optimal. Salah satu cara untuk dapat mengaktifkan guru beserta staf yang lainnya adalah dengan melalui sistem penerapan motivasi. Artinya tugas kepala sekolah pada tataran ini adalah harus dapat merangsang, memberi keyakinan, menciptakan kondisi agar semua warga sekolah terinspirasi untuk mengerjakan tugas yang telah diberikan kepadanya.
Pada prinsipnya orang akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu, jika diberi : 1) Keyakinan akan kemampuan mengerjakan program sekolah; 2) Keyakinan program tersebut memberi manfaat bagi dirinya; 3) Keyakinan program sekolah dapat meningkatkan prestasi dan prestise warga sekolah; 4) Keyakinan melaksanakan program sekolah lebih penting dari aktivitas sekolah lainnya; 5) Keyakinan tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi dirinya; 6) Memotivasi guru melaksanakan program tersebut; 7) Keyakinan bekerja berpedoman pada program sekolah akan memberikan hasil yang lebih baik; 8) Keyakinan apabila ada hubungan antar teman dalam organisasi akan harmonis.
4. Mengawasi Pembelajaran/Supervisi
Kegiatan utama pendidikan di sekolah dalam rangka mewujudkan tujuannya adalah kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktivitas organisasi sekolah bermuara pada pencapaian efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor, yaitu melakukan supervise terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan. Sergoivani dan Sttarat (1993) (dalam Mulyasa, 2004: 111) menyatakan bahwa : “supervision is a process desained to help teacher and supervisor leam more about their practice; to better able to use their knowledge ang skills to better serve parent and schools; and to make the school a more effective learning community“.
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa supervise merupakan suatu proses yang dirancang secara khusus untuk membantu para guru dan supervisor dalam mempelajari tugas sehari-hari di sekolah; agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua peserta didik dan sekolah, serta berupaya menjadikan sekolah sebagai masyarakat belajar yang lebih efektif. Adapun cara melaksanakan pengawasan agar berhasil baik ada beberapa prinsip dasar yang harus diterapkan yaitu : 1) Supervisi diberikan berupa bantuan (bukan perintah), sehingga inisiatif tetap berada pada tenaga kependidikan; 2) Aspek yang disupervisi berdasarkan usul guru, yang dikaji bersama kepala sekolah sebagai supervisor untuk dijadikan kesepakatan; 3) Instrumen dan metoda obeservasi dikembangkan bersama guru dan kepala sekolah; 4) Mendiskusikan dan menafsirkan hasil pengamatan dengan mendahulukan interpretasi guru; 5) Supervise dilakukan dalam suasana terbuka secara tatap muka, dan supervisor lebih banyak mendengarkan serta menjawab pertanyaan dari pada memberi saran dan pengarahan; 6) Supervisi klinis sedikitnya memiliki tiga tahap, yaitu : pertemua awal, pengamatan dan umpan balik; 7) Adanya penguatan dan umpan balik dari kepala sekolah sebagai supervisor sebagai perubahan prilaku guru yang positif sebagai hasil pembinaan; dan 8) Dalam pelaksanannya, kepala sekolah sebagai supervisor harus memperhatikan prinsip-prinsip : (1) hubungan konsultatif, kolegial dan bukan hirarkis, (2) dilaksanakan secara demokratis, (3) berpusat pada tenaga kependidikan (guru), (4) dilakukan berdasarkan tenaga kependidikan (guru), dan (5) merupakan bantuan professional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar