Powered By Blogger

Kamis, 07 Agustus 2014

Sky Power Chapter 24



Blue ternyata bisa keluar dari sel penjara berkat seorang pria yang pernah disandera Blue Palsu alias Replician.
"Kau tak perlu khawatir, aku seorang pengacara. Biar aku menjadi kuasa hukummu" ujar si pria tersebut.
"Apa paman yakin?" tanya Blue.
"Kau telah menyelamatkan nyawaku. Bagaimana mungkin aku membiarkan orang tak bersalah yang telah menyelamatkan aku mendapat hukuman yang tak seharusnya ia dapatkan?" jelas sang pria.
"Perkenalkan, namaku Benny Sanadi" seraya mengulurkan tangannya. Mereka keluar dari ruang tahanan. Mereka menemui Kapolresta Jakarta Selatan.
"Pak Benny, untuk sementara, semua bukti, kesaksian dan keterangan anda bisa kami terima terkait pembebasan Blue yang satu ini!" ujar Kapolres.
"Terima kasih, tapi saya mohon kerja sama anda untuk tidak mempublikasikan masalah ini untuk sementara waktu demi penyidikan. Sopirku ini untuk sementara menggantikan posisi Blue di ruang tahanan" Tiba-tiba muncul sosok pria berpakaian mirip Blue. Blue yang asli tentu kaget.
"Hah, apa dia sudah tertangkap?" tanya Blue asli keheranan. Pak Benny hanya tersenyum.
"Dia bukan siapa-siapa, dia sopir kepercayaanku. Dia sudah siap untuk menyamar menggantikanmu" ucap Pak Benny.
"Tapi ingat pak, anda tidak boleh membawanya terlalu jauh atau keluar kota. Karena secara de facto, kami anggap dia sebagai tahanan kota. Anda harus menjamin dia tidak akan berbuat macam-macam atau kabur. Ini menyangkut nama baik satuan kami!" ujar Kapolres.
"Itu sudah menjadi tanggung jawab saya pak. Saya akan berusaha maksimal untuk membongkar kasus ini dan menyelamatkan wali kota" jawab Pak Benny yakin.
"Terima kasih atas kerja samanya. Kami tunggu laporan selanjutnya" kata Kapolres.
"Satu hal lagi, mohon atur jadwal persidangan kasus Blue" lanjut pak Benny.
"Baik, akan saya usahakan" jawab Kapolres.
"Baik pak, kalau begitu saya pamit dulu!"
"Silahkan. . ." ujar Kapolrer mempersilahkan Pak Benny membawa Blue pergi.
Mereka pergi meninggalkan Mapolresta lewat pintu belakang untuk menghindari para wartawan yang masih bertugas untuk meliput perkembangan kasus Blue. Blue mengenakan baju khusus agar tak dikenali awak media menuju mobil Pak Benny. Mereka akhirnya meluncur ke rumah Pak Benny.

"Aku sangat berterimakasih atas pertolongan paman. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika paman tak datang" ujar Blue senang.
"Kau tak perlu seperti itu, sudah selayaknya saya menolong orang yang telah menyelamatkan saya, sesuai dengan apa yang bisa saya lakulan" jawab Pak Benny.
Mereka sampai di tempat yang mereka tuju. Rumah yang cukup mewah. Pak Benny menyalakan klakson, namun tak ada reaksi. Ia memutuskan untuk turun memanggil sang penghuni rumah. Blue juga ikut turun dari mobil sedan hitam tersebut, namun Pak Benny mencegahnya.
"Jangan, nanti kalau ada orang melihat keberadaanmu, bisa gawat" seru Pak Benny. Blue menuruti perintah Pak Benny. Ia turun sendirian dan memencet bell yang ada di sisi pagar.

Bel sudah ditekan, namun tak ada tanda-tanda dari reaksi penghuni rumah. Pak Benny juga nampaknya terlalu berumur untuk menaklukan pagar besi halamannya yang memang cukup tinggi.
Hampir 30 menit mereka menunggu, namun tetap tak ada tanda-tanda orang keluar rumah untuk membukakan pintu gerbang rumah. Blue sudah mulai merasa tak nyaman hanya menunggu dan duduk diam di dalam mobil. Ia memutuskan untuk keluar. Lagi pula, jam digital sudah menunjukan pukul 11 malam. Ia yakin, orang-orang sudah pada tidur.
"Hei, sudah ku bilang jangan keluar!" seru Pak Benny heran.
"Nggak usah khawati paman, sudah tidak ada lagi yang lewat kok!" balas Blue santai.
"Kamu tuh bandel ya! Terus, kalau ada yang lihat gimana?" sahut Pak Benny.
"Memang harus munggu berapa lama lagi paman?" Blue tidak mau kalah. Pak Benny pun menyerah. Blue sangat menyesalkan, andai saja kekuatannya telah kembali, bisa dengan mudah ia melompati pagar besi tersebut atau membuka rantai yang mungkin dijadikan kunci pagar besi tersebut. Ia mengetuk-ngetuk pintu pagar.
"Hei, jangan berisik. Di situ sudah ada bel, buat apa ketuk-ketuk pintu segala?" ujar Pak Benny melarang. Namun Blue melihat seuatu yang ganjil. Pintu yang ia ketuk barusan, sedikit terbuka. Ia mencoba memastikan dengan sedikit mendorongnya.
Benar saja, pintu tersebut terbuka. Ia heran, karena ia merasa tak menggunakan kekuatannya yang memang belum kembali. Namun pintu pagar tersebut memang nyata terbuka.
"Paman, pintunya terbuka!" seru Blue memberi tahu. Pak Benny tak kalah heran.
"Kok bisa ya?" sahutnya masih keheranan. Ia sejenak berfikir dan. . .
"Wah. . . Saya baru ingat, saya lupa mengunci pintu ini waktu pergi, ha ha ha . . . ! ! ! Ayo masuk" Ia mengajak Blue masuk. Blue merasakan sesuatu yang sangat menyebalkan kali ini.
'Dasar brengsek, tiga puluh menit disuruh menunggu di mobil nggak tahunya malah keluapaan, dasar pikun!' teriaknya dalam hati.
"Hei Blue, tolong dorong roling dornya, saya mau memasukan mobil." Pak Benny sudah ada di dalam mobilnya. Blue juga telah membuka roling dor dan kembali menutupnya ketika mobil telah sampai di garasi rumah. Pak Benny turun dari mobilnya sambil mengangkat telfon. Blue merasa heran, mengapa rumah sebesar ini dibiarkan gelap gulita di malam hari? Apa mungkin ini memang tipe atau kebiasaan sang pemilik rumah?
"Halo ma, kok rumah gelap begini sih?" Pak Benny berbicara via ponselnya.
"Apa? Mama lagi di Bandung? Ha ha ha . . . Papa lupa, kemarin mama berangkat" ujarnya. Blue yang mendengar percakapan itu menjadi tambah geregetan.
'Hah? Kenapa baru telfon sekarang? Coba telfon dari awal, nggak bakal nunggu kaya tadi' bisik Blue.
Pak Beni menutup ponselnya. Ia menyalakan lampu halaman lewat saklar di sebuah tembok. Namun tiba-tiba ia terhenti, ia memeriksa beberapa saku baju dan celananya. Ia mencari sesuatu. Blue agak heran melihatnya.

"Nyari apa paman?" tanya Blue mencoba membantu.
"Kacamataku. . ." jawab Pak Benny yang masih mencari di setiap saku pakaian.
"Sebentar, mungkin ketinggalan di mobil" ia melangkah kembali menuju mobil, namun Blue mencegah.
"Tunggu paman. . ." seru Blue.
"Sudah, kamu tunggu saja di situ" balasnya.
"Paman cari kacamata?" tanya Blue.
"Iya, kamu tahu dimana?" jawabnya.
"Apa yang paman maksud, kacamata yang ada di atas kepala paman itu?" Blue menunjuk ke arah kepala Pak Benny. Pak Benny meraba kepalanya. Dan ia menemukan barang yang ia cari tersebut.
"Loh, iya benar. Ini kacamata yang aku cari!" sambil memegang dan memakai kembali kacamatanya.
"Ya ampun. . ." Blue hanya bisa menepuk jidatnya menyaksikan kekonyolan sang pengacara pikun tersebut.
"Ha ha ha. . . Maklum, sudah memasuki usia 45 tahun, tanda-tandanya sudah mulai terasa. Ha ha ha . . . ! !" ia berjalan menuju pintu rumah.
Blue merasa heran, padahal ia telah menyasikan kecerdasan dan kelugasan pak Benny saat mengeluarkannya dari dari penjara. Namun di sisi lain, pak Benny begitu pikun dan konyol seperti itu. Pak Benny telah membuka pintu rumah dan mempersilahkan Blue masuk.
"Kamu santai saja dulu di sini. Silahkan duduk, saya mau menyiapkan minuman atau mungkin ada sedikit cemilan" Pak Benny pergi menuju dapur, sementara Blue merebahkan diri di sofa. Ia memandangi ruangan yang cukup luas dan indah penuh artistik. Tak heran jika melihat profesi Pak Benny sebagai seorang pengacara kondang.
Beberapa saat kemudian, Pak Benny muncul dan menghidangkan teh hangat.
"Silahkan diminum!" Pak Benny menawarkan sambil menyeruput teh hangat bagiannya.
"Terima kasih pak"
"Oh ya! ngomong-ngomong, kau tak mandi selama dua hari, dan kau juga tak ganti pakaian sejak kau masuk tahanan. Apa kau masih merasa nyaman?" seru Pak Benny. Benar juga pikir Blue, ia tak mandi selama itu.
"Maaf, kalau kamu mau melakukannya, silahkan gunakan apa yang ada di sini. Anggap saja ini rumah sendiri" katanya.
"Terima kasih paman, paman sangat baik padaku" Blue merasa terharu.
"Sudah selayaknya aku memperlakukan orang yang telah menyelamatkan aku dengan baik, bukankah begitu. . . . Ferry. . . ? ? ?"
Blue cukup kaget dengan kata terakhir yang terucap oleh Pak Benny.
"Paman, dari mana paman tahu namaku?" tanya Blue penasaran. Pak Benny hanya tersenyum. Ia bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke suatu tempat. Ia mengambil suatu benda dan menyerahkannya pada Ferry.
"Aku menemukan ini di sekitar area pertarungan antara kamu dengan Blue palsu.
Tanpa sengaja, kartu identitasmu jatuh dan aku membacanya" pak Benny menyerahkan tas, dompet dan pakaian yang Ferry taruh di suatu tempat sebelum bertarung dengan Blue palsu.
"Maaf kalau kamu tak berkenan. Ya, paling tidak, bayangkan jika benda ini jatuh ketangan orang lain, apalagi sampai ketangan polisi. Bisa kamu bayangkan apa jadinya!" lanjutnya. Ferry menyetujuinya.

To Be Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar